RAMPOE Catatan Bunga Rampai Pendidikan

Kategori: Penerbit Afkari | 80 Kali Dilihat
RAMPOE Catatan Bunga Rampai Pendidikan Reviewed by AfkariBook.Com on . This Is Article About RAMPOE Catatan Bunga Rampai Pendidikan

Anaïs Nin, salah satu penulis perempuan Perancis-Amerika yang dianggap berpengaruh pada abad ke-20 pernah mengatakan, “Kita menulis untuk merasakan hidup dua kali; saat sebuah momen berlangsung dan saat menimbang masa yang telah lalu.” Namun Niin tampaknya melupakan satu hal, bahwa sebuah tulisan juga bisa mendahului zamannya. Ia bukan melulu soal… Selengkapnya »

Rating: 4.5
Harga:Rp 59.000

Pemesanan Juga dapat melalui :
SKU : AFK - RC
Stok Terbatas
0.3 Kg
13-07-2018
Detail Produk "RAMPOE Catatan Bunga Rampai Pendidikan"

Anaïs Nin, salah satu penulis perempuan Perancis-Amerika yang dianggap berpengaruh pada abad ke-20 pernah mengatakan, “Kita menulis untuk merasakan hidup dua kali; saat sebuah momen berlangsung dan saat menimbang masa yang telah lalu.” Namun Niin tampaknya melupakan satu hal, bahwa sebuah tulisan juga bisa mendahului zamannya. Ia bukan melulu soal saat ini atau kemarin. Ia bisa tentang besok. Ia bisa meramal dan menyentuh masa depan. Setidaknya, ia akan menjadi muasal harapan akan kelak yang masih kabur, asing atau tak terbayangkan. Karena itu sebuah tulisan bisa saja menyiratkan kekhawatiran atau optimisme, ketakutan atau semangat, kehilangan atau penemuan, kegelisahan atau kepastian, kekecewaan atau mimpi dan harapan. Atau sekaligus dari semua itu. Yang pasti, laku menulis sendiri adalah buah dari sederet hal baik. Karena untuk menjalankannya selalu diperlukan perenungan, kebajikan dan—tentu saja—keberanian.

Buku berisi kumpulan tulisan yang sedang Anda baca ini, datang dari segala hal baik itu. Penulisnya, Marthunis Bukhari, mungkin khawatir, takut, merasa kehilangan atau kecewa akan banyak hal dalam menimbang berbagai isu pendidikan. Tetapi dari situlah ia membangun energi untuk merenung, menimbang dengan bijak dan mengumpulkan keberanian untuk menulis, bukan sekedar mengutuk ketidakberesan tanpa melakukan apa-apa. Dengan sendirinya, melalui tulisannya, ia sedang memupuk harapan. Karena ia tidak saja mencatat masa lalu dan menimbang masa kini semata, tetapi juga mencoba bercengkerama dan—mungkin—menakar peruntungannya untuk mengubah masa depan.

Tulisan-tulisan dalam buku ini jelas datang dari kegelisahan yang kemudian memantik banyak pertanyaan untuk dapat Marthunis jawab sendiri. Itikad dan ijtihadnya untuk membahas banyak persoalan muncul dari pertanyaan-pertanyaan yang jelas tak akan tuntas dijawab dalam semalam. Tetapi keberaniannya untuk merenungkan, menuliskan dan menyajikannya menjadi kumpulan pemikiran, perlu menjadi catatan. Isu pendidikan yang dibahas dalam buku ini berada dalam ranah ide dan diskusi yang luas namun nyata adanya. Sesuatu yang tidak mengherankan menimbang pengalaman penulisnya dalam mengelola dunia pendidikan; sebagai guru, pengasuh asrama dan pimpinan sekolah.

Jikapun rentang pendekatan penulis untuk melihat dunia pendidikan terkesan berpijak pada cara pandang yang “beragam” atau cakupan isu yang dipilih tidak melulu berkisar tentang pekerjaan utama penyelenggaraan pendidikan di dalam sekolah, hal ini justru membuktikan keluasan pertanyaan, sekaligus pisau analisis masuk akal yang dipakainya untuk menaklukkan kegelisahan atas isu-isu pendidikan yang terjadi.

Dalam satu bagian, tampak ketertarikan, pemahaman (dan pencarian) penulis atas teori System Thinking (Peter Senge) yang menjadi basis pemikiran dan pengelolaan pendidikan di Sekolah Sukma Bangsa Aceh. Terma-terma “kolektivitas daripada individu”, “pemain tim”, “saling ketergantungan”, “komunitas pembelajar”, atau “struktur yang mempengaruhi perilaku” menjadi kata kunci dalam beberapa tulisan; “Membangun Komunitas Belajar” atau “Filsafat Pendidikan Sukma”. Beberapa terma tersebut juga dipakai untuk menegaskan tujuan mulia dan sesungguhnya dari pendidikan; “untuk memanusiakan manusia” seperti tampak dalam tulisan “Mendidik Anak Udik”, “Pendidikan untuk Kemanusiaan” atau persoalan keadilan dan kesetaraan akses untuk belajar seperti tampak dalam “Sekolah Unggulan dan Disparitas dalam Pendidikan”. Sementara upaya membangun sekolah sebagai lingkungan belajar yang positif, tempat yang menyemai budaya tanpa kekerasan dan perisakkan (no-violence, no-bulyying), tanpa kecurangan (no-cheating), tanpa kebiasaan-kebiasaan buruk (no-smoking, no-littering) tampak pada tulisan “Pendidikan Karakter Berbasis Boarding School” dan “Membangun Pendidikan Berintegritas”.
Marthunis juga menunjukkan dirinya sebagai pembelajar yang baik saat ia mencatat dan menyajikan kekagumannya akan sistem pendidikan dari negara yang dianggap memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia: Finlandia. Sebagai alumni University of Tampere, ia menyajikan beberapa hal yang dapat dipelajari dari Finlandia seperti; pendidikan berbasis riset (“Indonesia dan Budaya Riset”), otonomi siswa, guru dan sekolah, pentingnya membangun kepercayaan di antara pelaku dan pemangku kebijakan pendidikan atau cara memperkuat pendidikan melalui pengembangan kapasitas guru. Tulisan “Menguji Mimpi: Menjemput Aurora di Langit Finlandia” dan “Membangun Pendidikan ala Finlandia” mewakili ide ini.

Komitmen, kerja keras dan keinginan untuk belajar terus-menerus dipercaya penulis sebagai hal yang menginspirasi dan menjadi sebuah perilaku yang harus dimiliki seorang pendidik. Pemikiran ini diwakili oleh tulisan “Pahlawan Pendidikan”, “Sebuah Metamorfosis: The Magnificent Eleven”.

Buku ini juga memberikan perhatian khusus atas beberapa isu faktual dunia pendidikan di Indonesia. Beberapa diantaranya adalah mengenai berbagai praktik kekerasan dalam pendidikan (“Guru Budi: Pelajaran Bagi Pendidikan Indonesia”), maraknya intoleransi, perlunya sikap dan pikiran yang terbuka atas perbedaan (open mindedness) (“Piknik dan Keberagaman”), pentingnya melek media sosial di zaman yang serba berubah cepat (“Urgensi Literasi Media Sosial Melalui Kurikulum”), juga catatan akan diplomasi pendidikan bagi anak-anak yang berasal dari Mindanao, Filipina Selatan (“Diplomasi Pendidikan”). Termasuk di dalamnya tiga “catatan perjalanan” yang melekat dalam benak penulis tentang berharganya sebah proses perdamaian dalam “Smolna, Saksi Bisu Bagi Perdamaian Aceh”), dan indahnya toleransi terhadap mereka yang minoritas “Belajar Dari Keberagaman”, dan “Ramahnya Finlandia Terhadap Muslim”.

Kumpulan tulisan dalam buku ini, semestinya bisa memancing mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan untuk turut memikirkan berbagai persoalan yang ada. Setidaknya, mendorong keberanian untuk mempertanyakan, merenungkan dan menuliskan segala kegelisahan dalam berbagai isu pendidikan. Bukan saja karena buku ini ditulis oleh pelaku pendidikan, tetapi juga menimbang perlunya perhatian, komitmen dan aksi bersama untuk menjamin pendidikan yang lebih baik di masa depan.

Sebagai sebuah kumpulan tulisan, buku ini telah menunjukkan beragam dan kompleksnya berbagai persoalan dalam pengelolaan pendidikan. Sebagai perenungan atas pertanyaan yang mengusik dalam pendidikan kumpulan tulisan dalam buku ini semestinya bisa memancing lahirnya pertanyaan-pertanyaan dan diskusi-diskusi baru tentang pendidikan. Terlebih karena buku ini merekam berbagai persoalan pendidikan yang pernah maupun yang sedang terjadi di masa kini. Sebagai sebuah laku ijtihad, menuliskan ide-ide/isu pendidikan menjadikan buku ini melampaui apa yang dinyatakan Anaïs Nin; karena ide-ide dalam buku adalah pemantik harapan akan pendidikan yang lebih baik di masa mendatang. Laku yang menunjukkan kapasitas dan keberanian bertindak untuk menentukan masa depan pendidikan di Aceh dan Indonesia.

Tags:

Dapatkan Diskon
Daftar newsletter

 
Chat via Whatsapp